Minggu, 15 Februari 2009

Keutamaan menjaga fithrah

Pendahuluan:
Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah Swt. Tuhan semesta alam, kepadanyalah kita memuji dan hanya kepadanya pulalah kita minta pertolongan serta maghfrirah yang selalu kita harapkan darinya yang maha Rahman,Rahim. Yang senantiasa membukakan pintu maafnya bagi hamba yang ingin kembali padaNya. Barangsia yang diberi petunjuk oleh ALLAH Swt. Maka keberuntunganlah baginya, dan barang siapa yang disesatkannya maka tidak ada seorangpun yanag dapat memberikannya petunjuk dan kecelakaanlah baginya.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah dan terlimpah atas junjungan kita Nabiullah waNabiuna Muhammad Saw. Serta keluarga dan shahabat dan para pengikut-pengikut beliau yang setia sampai hari qiamat nanti. Amin.
Alah Swt. Berfirman:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”(Qs.Ali`imron:102)
Rasulullah Saw. Bersada:
كل مولود يولد علي الفطرة فابؤاه يهودانه او ينصرانه او يمسا نه
Artinuya :Setiap bayi yang dilahirkan atas dasar fithroh ,maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi ,nashroni atau majusi.(H.R Bukhri.Muslim)




Definisi Fithrah:
Fithrah menurut bahasa adalah Tabi`at,perangai, kejadaian asli.
Sedangkan manurut istilah adalah sifat yang asli/semula yang ada pada diri seseorang sebagaimana hadits nabi saw:
كل مولود يولد علي الفطرة فابؤاه يهودانه او ينصرانه او يمسا نه
Artinuya :Setiap bayi yang dilahirkan atas dasar fitroh ,maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan yahudi ,nashroni atau majusi.(H.R Bukhri.Muslim)
Seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fithrahnya, pasti dia akan mengarah kepada tauhid yang dibawa oleh para rasul yag disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditunjukan oleh alam. Akan tetapi bimbingan yang menyimpang dan lingkungan yang atheis itulah faktor penyebab yang mengubah pandangan sibayi. Dari sanalah seorang anak manusia mengikuti bapaknya dalam kesesatan dan penyimpangan,
Allah berfirman dalam hadits qudsi:

خلقت عبا دي حنفاء فا جتالتهم الشيا طين
Artinya:”Aku ciptakan hamba-hambaku dalam keadaan lurus bersih, maka setanlah yang memalingkan mereka.”(HR.Muslim dan Ahmad)
Maksudnya, memalingkan mereka kepada berhala-berhala dan menjadikan mereka itu sebagai Tuhan selain Allah. Maka mereka jatuh dalam kesesatan, keterasingan, perpecahan dan perbedaan; karena masing-masing kelompok memiliki tuhan sendiri-sendiri. Sebab, ketika mereka berpaling dari Tuhan yang hak, maka mereka akan jatuh kedalam tuhan-tuhan palsu. Sebagaiman firman Allah Swt:
فذالكم الله ربكم الحق فماذا بعدالحق الا الضلال
Artinya:’’ Maka (dzat yang demikan) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.’’(Yunus: 32)
Kesesatan itu tidak memiliki batas dan tepi. Dan itu pasti terjadi pada diri orang-orang yang berpaling dari Allah Swt. firmanNya:

39. Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
40. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali Hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu .
Dan sabda Rasulullah Saw:
مامن مولود الايولد على الفطرة فابواه يهودنه اوينصرانه كماتنتجون البهيمة هل تجدون فيها من جدعاء حتىتكونواتجدعون نها رواه البخاري
“Tiada seorang bayi melainkan dilahirkan atas agama yang sebenarnya, maka kedua ibu bapaknyalah yang menjadikanya yahudi atau menjadikannya nasrani, sebagaimana kamu sekalian membiakkan binatang, kamu sekaliantiada menjumpainya yang rompong hidungnya sehingga kamu sekalian merompongkannya”(Hr. Bukhari)
Para ulama dalam memberikan penafsiran terhadap hadits diatas, terutama dalam kata “fithrah”saling berbeda pendapat, mereka mempunyai pemahaman bermacam-macam. Namun karena kata “fithrah”itu di iringi dengan perkataan “maka ibu bapaknyalah yang menjadikannya nashrani”maka dapatlah disimpulkan bahwa hal yahudi atau nashrani itu merupakan suatu sifat yang datang baru atas manusia dengan sebab perbuatan kedua ibu bapaknya. Hal itu bagaikan rompongnya hidung kambing setelah sejak lahirnya selamat tidak ada cacat sedikitpun. Masalah itu dapat dimaklumi menurut ketentuan syari`at islam tidak memberi beban (Tajklif) kepada anak-anak yang belum sampai umur dewasa. Seandainya, tidak demikian, maka mereka ikut serta menerima siksaan akibat tindakan kedua orang tuanya hingga mereka sampai usia dewasa dan menyetujui tindakan kedua orang tuanya. Bila memang begitu maka mereka tetap menerima siksaan, karena mereka telah dewasa dan telah menerima
Kata fitrah dalam istilah arab yang berarti asal kejadian, kesucian, dan agama yang benar. Fithrah dengan arti asal kejadian bersinonim dengan kata ibda’ dan khalq. Fitrah manusia atau asal kejadiannya sebagaimana diciptakan Allah Swt, menurut ajaran islam, adalah bebas dari noda dan dosa seperti bayi yang baru lahir dari perut ibunya . Fithrah dengan asalkejadian dihubungkan dengan pernyataan seluruh manusia sewaktu berada di alam arwah yang mengakuai ketuhanan Allah Swt. Seperti yang digambarkan dalam surah Al-A`raf 172-173. Fithrah dengan arti kesucian terdapat dalam hadits yang menyebutkan semua bayi terlahir dalam keadaan fithrah (`ala al-fithrah), dalam keadaan suci, dan bayi tersebut oleh kedua orang tuanya dapat dijadikan pemeluk Kristen, yahudy atau majusi (HR.Bukhari,Muslim,Abu daud, Attirmidzi, Malik, dan Ahmad bin Hanbal atau imam Hanbali.)
Fithrah dengan arti agam yang benar, ya`ni agama Allah Swt, adalah arti yang dihubungkan sebagi penafsir Al-Qur`an dengan kata fithrah dalam surah Arrum Ayat 30. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah Swt. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”Adapula yang menafsirkan agama yang lurus (benar) disini sebagai agama islam, dengan alasan islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah manusia. Islam adalah agama fitrhrah karena sesuai dengan kebutuhan manusia untuk tunduk kepada Tuhan, dan dapat membimbing manusia kepada cara beribadah yang benar.
Ada dua prinsip yang ada pada diri manusia yaitu: jalan fithrah atau jalan non fithrah. Jalan non fithrah cenderung menyesatkan dan merugikan. Sedangkan jalan fithrah membimbing kearah tindakan yang positif. Jalan fithrah adalah suatu jalan yang dibimbing oleh suara hati suara hati ini berasal dari God-Spot. Ini sesuai dengan pendapat Jalaluddin Rumi, Danah Zohar, Ian marshall,V.S. Rama Chandreran. Atau hasil riset syaraf manusia, Wolf Singer. Mereka pakar dibidang SQ.(5)
Fithrah juga diartikan dengan sunnah Nabi Muhammad Saw, dan adapula yang mengartikannya dengan sunnah-sunnah para Nabi. (6)

Macam-macam fithrah
-mencukur kumis
-memelihara jenggot
-menggosok gigi(bersiwak)
-memasukkan air kehidung
-memotong kuku
-mencuci sela-sela jari dan lipatan telinga
-Mencabut bulu ketiak
-Mencukur bulu kemaluan
-Beristinja`dan berkhitan
Pengertian ini ditarik dari hadits Nabi Saw. Yang menyebut beberapa perbuatan yang termasuk fithrah.
عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله ص م عشرمن الفطرة : قص الشارب واعفاء اللحية والسواك واستنساق الماء وقص الاظفار وغسل(البراجيم) ونتف الابط وحلق العانة وانتقاص الماء قال زكريا قال مصعب ونسيت العاشره\ة الاان تكون المضمضة زاد قتيبت قال وقيع : انتقاص الماء يعنى الاستنجاء
Dari `aisyah ra. Ia berkata, Nabi Saw bersabda sepuluh yang termasuk fithrah: menncukur kumis, memelihara jenggot, menggosok gigi (bersiwak), memasukkan air kehidung, memotong kuku, mencuci sela-sela jari dan lipatan telinga, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, beristinja`dan berkhitan.(HR.Muslim).(7)
Dan pernyataan Nabi Saw,” Khamsu minal fithrah “ (lima yang termasuk fithrah) yaitu: berkhitan, mencukur bulu kemalauan, menggunting kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. (HR. Abuhurairah(8)
Sunnah Rasulullah
Menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. Dan menjalankan syareatnya, serta menyebar luaskan da`wahnya , dan melaksanakan washiyatnya adalah sebagai bentuk sifat cinta terhadap Rasulullah Saw.
Firman Allah Swt:

66. Dan Sesungguhnya kalau kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. dan Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),(Qs.An-nisa`: 66) (9)


Arti Ayat tersebut adalah: “maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu.


Pandangan islam tentang fithrah
Berdasarkan penjelasan tentang hadits-hadits tersebut, maka dalam pandangan islam adalah kewajiban bagi kedua orang tua untuk mendidik anaknya sejak dini dengan pendidikan dan pengajaran islam. Sesuai dengan fithrah setiap bayi, maka dalam islam tidak dikenal adanya dosa warisan. Setiap bayi, baik anak muslim atau bukan, berada dalam fithrah, yaitu kesucian, sehingaa bila meninggal dunia sebelum `aqil (baligh) dia tidak akan disiksa diakhirat sekalipun kedua orang tuanya kufur.(10) jadi agama yang sesuai dengan kejadian yang semula adalah isalam, kecuali dalam hubungannya dengan hokum-hukum dari sebagian muamalat, sebagaimana dalam masalah memusakai (mewarisakan) dan sejenisya, maka dalam hal ini, anak-anak adalah mengikuti orang tua mereka.(11)
Iamam nawawi berpendapat bahwa fithrah itu tidak terbatas jumlahnya karena dalam hadits ada kata depan `min` (dari antara) sebelum kata fithrah. Dalam hadits itu disebut minal fithrah (dari fithrah atau diantara fithrah). Karena itu fithrah dalam hadits dapat diartikan sunnah atau tradisi nabi Saw, dan juga tradisi para nabi, disamping ada yang mengartiknya dengan agama. Fithrah juga diartikan sebagai sifat bawaan pada setiap manusia yang belum dimasuki unsur-unsur dan pengaruh dari luar yang baik atau yang buruk. Manusia diciptakan sesuai fithrahnya, artinya menurut sifat bawaan asli yang cenderung kepada kesucian dan pencarian Tuhan yang maha kuasa dan bijaksana.(12)
Dalam Al—Quràn kata fithrah dengan berbagai kata bentukannya disebut 28 kali, 14 kali disebut dalam konteks uraian tentang bumi atau langait, sisanya disebut dalam konteks tentang manusia, baik yang berhubungan dengan fithrah penciptaan maupun fithrah keagamaan yang dimilikinya

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],

[1168] fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Ayat diatas memperlihatkan bahwa manusia diciptakan dengan membawa fithrah (potensi) keagamaan yang hanif, yang benar dan tidak bisa menghindar meskipun boleh jadi ia mengabaikan atau tidak mengakuinya. Berbeda dengan teolgi krisen yang memandang manusia bersifat negative dengan memandang dosa warisan adam. Al-qur`an memandang manusia mempunyai potensi psitif yang lebih besar dibandingkan potensi negatifnya. Allah Swt. Berfirman:

266. Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, Kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya[169].

[169] inilah perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya Karena riya, membangga-banggakan tentang pemberiannya kepada orang lain, dan menyakiti hati orang.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia lebih mudah berbuat baik dari pada berbuat jahat. (لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت ). Nafs manusia memperoleh ganjaran dari apa yang di usahakannya dan memperoleh siksa dari apa yang diusahakannya. Dalam bahasa arab kata kasabat digunakan untuk menggambarkan pekerjanya yang dilakukan dengan mudah, sedanghkan kata iktasabat menunjukkan pada hal-hal yang lebih sulit dan berat. Jadi ayat ini mengisyaratkan bahwa fithrah manusia itu cenderung kepada kebaikan. Jika ada orang yang melakukan keburukan, sebenarnya ia harus berusaha payah melawan fithrah dirinya, melawan bashirahnya. Meskipun demikian, kaerena daya tarik keburukan lebih kuat dibanding daya panggil kebaikan, maka dorongan kepada keburukan (اما رة با السوء ) lebih cepat merespon stimulus negatif yang dijumpainya. (13)
Dalam nafs manusia ada potensi yang dicipta secara fithri, berfungsi sebagai peb\nggerak tingkah laku. Penggerak tingkah laku mempunyai peranan penting dalam ketaatan manusia sekurang-kurangnya dalam dua hal:
1.mewarnai corak tingkah laku manusia
2.menentukan makna atau nilai dari perbuatan yang dilakukan orang dalam hidupnya.
Penggerak tingkah laku seseorang tidak dapat diketahui secara langsuang melalui perbuatang yang dilakukan, kaerena ia bekerja didalam system nafs pada sisi dalam manusia. Didalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan yang menuntut memperoleh pemuasan dan dorongan-dorongan itu akan tampak jika bertemu dengan stimulus yang sesuai, dan selanjutnya dorongan-dorongan itu bersama dengan tabiat-tabiat nafs lainya menentukan bagaimana merespon atas stimulus tersebut.
Nafs yang sehat dimungkinkan untuk bisa mengendalikan dorongan-dorongan itu sehingga berwujud pada tingkah laku yang terkendali dalam keadaan. Motif mendorong pada tingkah laku negatif, ia berpotensi untuk mempengaruhi seseorang hingga berwujud pada tingkah laku yang tidak terkendali. Pertentangan antara keinginan untuk memuaskan dorongan buruk degan dorongan untuk bertindak adil bisa menyebabkan seseortang kehilangan integritas dirinya. Sededmikian rupa. Dalam keadaan demikian orang dapat terbalik pemikirannya sehinggga apa yang mustahil sebagai satu hal yang mungkin, masalah yang bernilai untuk dapat diterima oleh logika dan sistem nilai jiwanya, dan apa yang tidak wajar tampak menjadi sesuatu yang wajar.
Dalam Al-Qur`an gagasan tentang factor-faktor penggerak tingkah laku (motif) berhubung dengan apa yang disebut syahwah, hawa dan fithrah motif dalam Al-Qur`an tidak disebut secara langsung dengan term دا فع—دوافع, tetapi dengan term syahwah, hawa, fithrah dan uslub lainnya.(13)


Kesimpulan
Fithrah adalah kejadian asli (semula), murni yang ada disetiap seseorang sejak ia masih baru dilahirkan dari perut ibunya. Berdasarkan hadits Rasulullah Saw.yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari.
Menjaga fithrah adalah perbuatan yang termasuk sunnah Rasulullah Saw. Dan seseorang yang selalu mengerjakan sunnah-sunnah Rasulullah dan menjaganya adalah sifat cinta terhadap Rasulullah. Dalam sebuah hadits dinyatakan: “tidak sempurna iman seseorang diantar kamu sehingga Aku lebih dicintai dari Ayahnya, Anaknya dan manusia seluruhnya.”(Bukhari. Muslim)



Referensi
1.Kitab tauhid. Dr. shaleh Al-fauzan bin Abdullah Al-fauzan cet.1. 1998
2.Islam agama Fitfrah. Syekh Abd. Aziz Syawisi cet pertama. 1996
3.Ensiklo pedi islam (dewan redaksi ensiklopedi islam).cet.7. 2000
4.Kamus tasawuf. Dr. M. Sholihin, M. Ag. Drs. Rosihun Anwar M. Ag.
5.Jiwa dalam Al-Qur`an. Dr. Achmad Mubarok, M.A.
6.Shahih Muslim
7.Akhlaq Islam membina rumah tangga dan masyarakat. Kh. Abdullah Salim. Cet. 1. 1406 h / 1986 m.
8.E S Q (emotional spiritual quotient). Cet. Pertama 2001
9.Ihyaussunnah (menghidupkan Sunnah) Km. Yusuf usman
10.Al-Qur`an dan terjemah. Departeman agama, Ri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar