Rabu, 18 Februari 2009

dakwah nabi ibrahim

NABI IBRAHIM AS
(Biografi, Sejarah Dan Metodologi Dakwah)
Oleh: Mustova, Ibad Badrussalam dan Gustian

A. Biografi Nabi Ibrahim as
Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Tarikh (250) bin Nahur (148) bin Sarugh (230) bin Saghu (239) bin Faligh (439) bin Abir (464) bin Syalih (433) bin Arfakhsyadz (438) bin Saam (600) bin Nuh alaihissalam. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Ikrimah, ia mengatakan, “Ibrahim diberi gelar Abu Dhaifan.” Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama "Namrud bin Kan'an."
Al-Hafidz bin Asakir menceritakan dari Ishaq bin Basyar Al-Kahili bahwa Ibu Ibrahim bernama Amilah. Mengenai kelahiran ibunya itu terdapat cerita yang cukup panjang. Namun Al-Kalabi mengemukakan “Nama ibunya itu adalah Buna binti Kartiba bin Kartsi, salah seorang dari Bani Arfakhsyadz bin Saam bin Nuh as.”
Para ahli sejarah mengatakan, “Ibrahim menikahi Sarah, Nahur menikahi Milka, putri Haran, yang juga keponakannya sendiri. Sarah merupakan seorang wanita yang mandul.” Masih menurut mereka, Tarikh berangkat bersama putranya Ibrahim dan istrinya, juga Luth yang merupakan anak pamannya, dan Haran dari tanah Kaldaniyin menuju ke tanah orang-orang Kan’an. Kemudian mereka singgah ke Carrhae (Huran), dan disanalah Tarikh meninggal dunia dalam usia dua ratus lima puluh tahun (250 tahun). Selanjutnya mereka berangkat menuju ke tanah air bangsa Kan’an, yaitu Baitul Maqdis. Kemudian mereka menetap di Carrhe,yaitu tanah Kaldaniyyin pada zaman itu. Demikin tanah Jazirah dan Syam. Mereka itu menyembah tujuh bintang. Dan orang-orang yang membangun kota Damaskus dulu juga memeluk agama itu. Mereka berkiblat ke Kutub Selatan dan juga menyembah tujuh bintang baik berupa perbuatan maupun ucapan. Oleh karena itu, setiap pintu dari tujuh pintu kuno Damaskus memiliki gambar yang melambangkan ketujuh bintang tersebut. Dan untuk ketujuh bintang itu mereka juga mengadakan hari raya dan kurban. Penduduk Carrhae menyembah bintang-bintang dan berhala. Pada saat itu, semua orang yang dimuka bumi ini kafir kecuali Ibrahim, istrinya dan keponakannya yang bernama Luth as.
Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calon Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya, jauh-jauh telah diilhami akal sehat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus diberantas dan diperangi agar mereka kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calon pembeli dengan kata-kata: " Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini?” Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin sesekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Berserulah ia kepada Allah: "Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati. "Allah menjawab seruannya dengan berfirman: “Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku?” Nabi Ibrahim menjawab: "Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu." Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain. Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan empat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki " Fayakun".

B. Sejarah Dan Metodologi Dakwah Nabi Ibrahim as
Allah memperlihatkan kepada kita bahwa Nabi Ibrahim mengetahi bahwa bapaknya dan kaumnya menyembah berhala namun beliau mengingkarinya dengan tidak meninggalkan mereka karena jika beliau meninggalkan mereka semua maka menunjukkan bahwa Ibrahim tidak mempunyai adab terhadap bapaknya walaupun mereka semua berada dalam kesesatan. Walaupun dengan pengingkaran terhadap keyakinan mereka akan mendatangkan murka mereka namun keridhaan Allah adalah tujuan dari semua itu. Sisi lain dari bentuk berbaktinya Ibrahim terhadap bapaknya adalah karena bapaknya telah memberi yang terbaik kepada anaknya dengan mendidiknya dan menafkahinya, maka yang paling tepat sebagai imbalanya adalah dengan kebaikan pula. Kebaikan yang paling berharga bagi orang tua adalah dengan mengajak kepada apa yang bisa mengantarkan kepada kesenangan, kebahagian dan terjauhkannya dari adzab Allah. Faedah da`wah ibrahim kepada bapaknya adalah sebagai alasan terhadap kaumnya sehingga mereka tidak mengatakan, “mengapa kamu membiarkan kerabat dekatmu dalam kesesatan dan menyeru kepada kami ?”. Memang tidak pantas apabila membedakan antara kerabat dengan yang bukan kerabat padahal materi yang disampaikan sama-sama menyeru kepada kebenaran. Maka supaya mereka tidak mengatakan seperti itu maka Nabi Ibrahim memulai da`wahnya dengan menda`wahi bapaknya atau kerabat dekatnya untuk beribadah kepada Allah semata kemudian diteruskan da`wahnya kepada kaumnya.
Memperhatikan kesuksesan Ibrahim dalam berda`wah kepada kaumnya, maka akan didapati bahwa Ibrahim dalam berda`wah menggunakan metode bertingkat-tingkat atau sedikit demi sedikit. Tatkala malam datang dan melihat bintang-bintang dia berkata kepada kaumnya dengan nada sindiran “ini tuhanku” namun ketika bintang itu menghilang dia berkata, “aku tidak akan menyembah tuhan yang terkadang ada dan terkadang menghilang”. “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat." Bagimana aku akan menyembah tuhan yang menyinari diwaktu tertentu saja, dan menghilang diwaktu yang lain. Dan siapa yang akan menunjukkan aku dari kesesatan apabila dia menghilang?. “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Karena lebih terang dan manfaatnya lebih banyak. “Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (Al-An’am: 76-78). Inilah kepandaian Ibrahim dan langkah-langkahnya dalam memberika argumen kepada kaumnya. Dia mengajukan alasan yang kuat kepada kaumnya, dari argumen tentang bintang dia bantah pula dengan bintang dengan logika yang lebih kuat dan masuk akal. Mereka mengatakan bahwa kesesuaian itu benar-benar sesuai dengan yang ada sehingga mereka tidak bisa mengelak dalam perdebatan itu. Meraka mengetahui pula bahwa bintang dengan sifat dan keberadaan sebagai kekurangan sehingga mereka tidak mungkin akan menjadikannya Tuhan sebagai sesembahan. Setelah menggunakan argumen yang lembut ini benar-benar menjadi tinggi aqidahnya atas aqidah kaumnya. Sehingga mereka berpendapat bahwa Ibrahim telah mengetahui atas pebuatan syirik yang mereka lakukan, mengetahui pula bahwa Ibrahim hanya menyerahkan diri kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Ibrahim memihak kepada yang hak dari pada yang batil. Dengan perkataannya ”dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.
Memperhatikan bagaimana Allah mensifati Ibrahim dengan sifat jujur karena memang Ibrahim mempunyai sifat jujur sebelum diangkat menjadi nabi. Allah memperlihatkan kepada kita bagaiman kejujurannya sebagai sifat dari nabi. Dengan sifat ini maka manusia akan mengikutinya, tidak mensifatinya dengan sifat dusta. Karena jika seseorang mengetahui bahwa pada diri seseorang ada sifat dusta maka tatkala dia mengajak orang tersebut dia akan mengatakan “dia adalah seorang yang pendusta, mungkinkah dia akan mampu menyelesaikan masalah. Justru dia akan mengantarkan kepada neraka jahannam.” Apapun bentuk kedustaan tidak akan pernah bisa mengeluarkan dari suatu permasalahan.
Bila kita memperhatikan kisah Ibrahim kepada bapaknya dalam kisah ini akan kita dapatkan kejadian yang mengherankan, kita melihat beradabnya Ibrahim kepada bapaknya, dia berucap dengan ucapan yang lembut tapi tidak memujinya,, penuh ketundukan untuk memperlihatkan kesucian hatinya dan hujjahnya yang masuk ke dalam pikiran dengan ungkapan yang mudah, dia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” Dengan ungkapan yang mudah untuk memikat bapaknya, ia berkeinginan untuk menjadikan setiap ikatan bermanfaat bagi dirinya. Dari segi yang lain dia berusaha mengalahkan ungkapan dari bapaknya, sehingga risalah yang dia emban bisa sampai kepada bapaknya. Dia menggunakan argumen yang kuat (karena sebagai petunjuk). Setelah menyeru dengan ungkapan itu yang sangat lembut, kemudian dia berkata dengan penuh sopan santun: “wahai bapakku janganlah kamu menyembah tuhan yang tidak mendengar ketika engkau meminta kepadanya, dan tidak melihatmu ketika kamu menyembahnya, dan tidak mempunyai kemampuan tetkala engkau membutuhkannya. Apakah sama tuhan yang mendenganr dengan tuhan yang tuli, tuhan yang melihat dengan tuhan yang buta?”.
Kemudian Ibrahim menyeru kepada bapaknya dengan kelembutan,dan tidak mensifatinya dengan kebodohan dan mesifati dirinya dengan orang yang paling mengerti. Maka dia berkata, “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” Kemudian dia melarangnya untuk mentaati syaitan karena syaitan bermaksiat kepada Allah Ta`ala, dan tidak ada kewajiban bagi manusia untuk mentaati siapa saja yang bermaksiat kepada Allah. Kemudian menutup dengan rasa kasihan kepada bapaknya, dan menakutinya akan adzab Allah jika menjadi pengikut syaitan. Dan Allah telah memerintahkan kita untuk menjadikan syaithan sebagi musuh bukan teman atau sebagai panutan. Namun apakah bapaknya menerima seruan Nabi Ibrahim?. Inilah jawabannya “Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah Aku buat waktu yang lama". (Maryam: 46)
Ibrahim mengingkari bapaknya untuk membenci tuhan yang disembahnya ,Azar. Kemudian dia layani dengan kekerasan setelah dengan kelembutan tidak bisa. Perkataan yang lembut diubahnya dengan perkataan yang kasar, dia tidak lagi memanggil dengan “bapakku” yang digandengakan dengan ungkapan “ya anakku”. Dia perpandangan bahwa tuhannya tidak membutuhkan kecintaan dari salah seorangpun, kemudian dia mengancamn dengan berkata “jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam” maksud rajam adalah melemparinya dengan menggunakan bebatuan, kemudian bapaknya juga mengusirnya untuk waktu yang tidak tentu supaya tidak melihatnya lagi.
Setelah kejadian itu Ibrahim tidak berkata lain kecuali dia berkata “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu”. Hanya keselmatan yang bisa aku titipkan dan aku tinggalkan (Maryam: 47) “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (Al-Qashash: 55)
Dan juga sifat bagi hamba Allah:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al-Furqan: 63)
Kemudian Ibrahim berjanji untuk memintakan ampun kepada tuhannya supaya di ampuni dosa-dosanya. Ini dilakukkannya sebelum diberi tahu oleh Allah kalau bapaknya adalah musuh Allah. Namun jika sudah dijelaskan kedudukannya maka menjadi tidak boleh untuk memintakan ma`af bahkan harus berlepas diri dari mereka dan dari apa saja yang mereka sembah. Seperti keterangan Allah Ta`ala: “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah Karena suatu janji yang Telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat Lembut hatinya lagi Penyantun.” (At-Taubah: 113-114)
Sehingga Nabi Ibrahim ketika tidak bisa merubah bapak dan kaumnya dan dari para penyembah berhala mereka semuanya di jahui oleh Ibrahim dan ikut dijauhi pula apa yang mereka sembah, sehingga tidak nampak keridhaan Ibrahim atas apa yang mereka sembah. Ini menunjukkan kepada kita untuk menjauhi kemungkaran. Jika bentuk kemungkaran itu ringan maka kita hanya menjauhi mereka dari segi kemungkarannya, dan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak berbuat baik kepada mereka.
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 15)
Jika seorang bapak menyuruh untuk bermaksiat maka tidak boleh untuk mentaatinya karena hak Allah di atas hak orang tua. Jika orang tua meminta uang maka harus diberi karena itu adalah kebaikan. Karena telah mendidik dengan baik maka harus dibalas dengan kebaikan pula.
Allah Ta’ala telah memberikan kepada Ibrahim petunjuk untuk mengungkap kesalahan lawannya. Seperti perkataannya kepada bapaknya : “(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (Al-Anbiya`: 52). Maksud Ibrahim adalah pura-pura tidak tahu terhadap patung-patung mereka sebagai bentuk menghinakan tuhan mereka. Ibrahim seakan-akan memulyakan mereka. Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". (Al-Anbiya’: 53).
Semua jawaban didasarkan karena nenek moyang mereka menyembahnya, mereka mengikuti apa yang dilakukan nenek moyang mereka, mereka lupa bagaiman bisa mengantarkan kepada keberhasilan? Inilah subhat para mush rasul secara keseluruhan, mereka terjauhkan dari petunjuk dan kebenaran. Mereka bersandar kepada akal namun tidak masuk akal, pendengaran tapi tidak bisa mendengar, kepada penglihatan tapi tidak dapat dilihat. Jadi mereka menyembah atas dasar pikiran nenek moyang mereka. Padahal Allah telah menciptakan pendengaran, penglihatan, dan akal supaya digunakan untuk menunaikan kewajiban. Ini semua adalah ni`mat, diingatkan supaya mahu mensyukurinya, menggunakannya sebagaimana mestinya, bukan dikufuri dengan menyalah gunakannya.
Firman Allah:
“ Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10-11)
Allah juga menyebutkan sifat penduduk neraka
“Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A`raf: 179)
Alasan mereka dalam menolak da`wah yang benar adalah karena nenek moyang mereka. Mereka memegangi apa yang nenek moyang mereka yakini. Walaupun nenek moyang mereka itu tidak tahu dan berilmu.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (Al-Baqarah: 170). Jadi taklid dan perkataan yang tidak ada petunjuk sangatlah jelek, dan merupakan makar setan yang besar bagi orang yang taklid ketika dia beribadah.
Benar-benar mengherankan kaum Ibrahim atas apa yang mereka buat. Mereka menyangka dia akan mengatakan seperti apa yang mereka katakan kepada tuhan-tuhan mereka dengan cara bersendau gurau. Mereka berkata kepada Ibrahim: “Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?". Mereka melihat bahwa apa yang dikatakan Ibrahim itu sebenar-benarnya bukan mainan. Dan patung-patung itu tidak mempunyai hak untuk djadikan rob atau Tuhan. Akan tetapi yang berhak untuk dijhadikan tuhan adalah yang memiliki langit dan bumi, dan telah dibuktikan oleh Ibrahim dengan alasan yang benar, Ibrahim tidak sama dengan kaummnya. Ibrahim tidak hanya mengucapkan pengingkarannya kepada penyembah berhala itu tetapi Dia juga menghancurkan semua patung itu dan mengecualikan satu patung yang besar supaya tahu terhadap hancurnya patung-patung itu, dan dijadikan tempat bertanya. Dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada patung yang tersisa tadi diharapkan akan dapat mengetahui hakekat tuhan yang sebenarnya karean patung itu tidak dapat menjawab pertanyaannya, termasuk juga tidak dapat mencegah dari hancurnya patung yang lainnya.
Nabi Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya perihal sesembahan mereka, sehingga jawaban dari mereka itu ia jadikan bumerang untuk mematahkan jawabannya. Tatkala mereka menjawab bahwa sesembahan mereka adalah patung, mereka tidak bisa menjawab pertanyaan selanjutnya yang diberikan oleh Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?"
Sehingga nampak jelas bahwa sesembahan mereka tidak peduli atas mereka sendiri, berbeda dengan sesembahan Ibrahim yang Dia adalah pemelihara di dunia dan akhirat. Kemudian Ibrahim menerangkan sifat tuhannya kepada mereka dengan mengatakan: “yaitu Tuhan) yang Telah menciptakan aku, Maka dialah yang menunjuki aku.” Pemberian tuhan adalah fitrah, aku meminta kepada yang dapat memberi manfaat dan mencegak dari yang bahaya. Dan yang telah memberiku pendengaran, penglihatan, dan akal yang dengannya aku bisa berpikir dan mengetahui yang hak dan yang bathil, aku serahkan semua urusanku kepada yang mempunyai langit dan bumi, dan yang telahmemberiku petunjuk dari langit untuk kebahagiaanku di dunia dan akhirat. Dia tidak sama dengan patung karena patung tidak memiliki semuanya itu, Dia adalah Allah pencipta mahluk.
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-Hidup
Keputusan mahkamah telah dijatuhakan. Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin. Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didatangkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:" Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu. Para penonton upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan heran seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah. Ada sebahagian daripa mereka yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mereka namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mrk merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mereka jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mereka merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mereka dan membuka mata hati banyak drp mrk untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah beralih ke pihak Nabi Ibrahim.
C. Pelajaran Yang Dapat Diambil Bagi Dakwah Masa Kini
Sifat Dan Akhlak Yang Harus Dimiliki Oleh Para Da’i
Penilaian orang atau mad’u terhadap akhlak da’i sebagian besar mempengaruhi, bahkan menjadi penentu keberhasilan dari sebuah dakwah. Oleh karena itu harus diperhatikan dan diamalkan akhlak-akhlak yang mencerminkan kepribadian para da’i itu. Dari penjelasan sejarah dan metodologi dakwah Nabi Ibrahim di atas penulis dapat menyimpulkan, bahwa akhlak yang harus dimiliki oleh para da’i adalah sebagai berikut:

1. Cerdas Dan Piawai
Seorang da’i harus sentitif dan cerdas. Harus jeli menangkap isyarat dan gejala yang sekecil-kecilnya sehingga cepat pula dalam merumuskan antisifasinya. Hendaklah dapat memaparkan apa saja yang ada dalam dirinya kepada saudara yang lain tanpa harus diketahui lawan. Begitu pula harus tenang dan tangkas dalam menghadapi peristiwa-peristiwa mendadak tanpa harus terdeteksi oleh orang lain. Jika sampai terdeteksi oleh orang lain, tentu akan berakibat fatal yang akan merugikan dakwah secara keseluruhan. Untuk ini semua dibutuhkan kecerdasan dan latihan yang panjang.
Latihan kecerdasan ini dapat dilakukan dengan: berkumpul dengan para ulama’, banyak membaca kitab, membaca sejarah salafus shalih, bercermin pada adab mereka dalam khilaf dan cara mereka dalam mengatasi masalah.
2. Rela berkorban
Seorang da’i harus rela berkorban dengan segala sesuatu yang dimilikinya baik jiwa, raga, waktu, ilmu, harta, dan segala yang ada padanya, sampai dia berhasil mendapatkan kepercayaan dari para mad’u. dalam hal ini cukuplah bagi kita untuk bercermin dari pengorbanan Rasulullah saw dan para sahabatnya dengan segala sesuatu yang dimilikinya. Sehingga pada akhirnya Allah menakdirkan keberhasilan dan kemenangan yang penuh berkah. Harus bersedia dan berani menunjukkan contoh-contoh daripada apa yang telah didakwahkannya, hingga setiap orang dapat melihat bekasnya/hasilnya dengan nyata.
3. Tidak Isti’jal (Tergesa-Gesa)
Seorang da’i harus lapang dada dalam berinteraksi dengan mad’u, sampai ia berhasil mengukur kedalaman pribadinya dan memenangkan kualitasnya. Yang menjadi tolak ukur di sini bukanlah kuantitas dengan mutu ala kadarnya. Seandainya dalam setahun kita hanya bisa menghasilkan satu orang ikhwah saja dalam sebuah proyek satu ikhwah yang terencana, tentu ini merupakan tanda-tanda keberhasilan. Teruslah meniti jalan dan jangan berhenti. Sesungguhnya keadaan tidak akan menyalahkan dan pahala pun tidak akan berhenti untuk kita.
4. Uswah Dan Qudwah (Keteladanan)
Sesungguhnya pribadi seorang da’i dengan segala prilakunya harus mencerminkan gambaran operasional yang jelas dan benar tentang segala sesuatu yang didakwahkannya dan apa yang ingin dipahamkan kepada mad’unya. Prilaku dan perbuatannya lebih mendahului perkataannya. Para Rasul khususnya Rasulullah saw dan para da’i pada periode awal tidak akan berhasil dalam mempengaruhi manusia kecuali dengan keteladanan yang baik (Uswah dan Qudwah yang baik).
Firman Allah swt, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw itu teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari kemudian dan mereka banyak menyebut nama Allah.” (Qs. Al-Ahzab: 21)
Kegiatan dan penyelenggaraan dakwah hendaklah diniatkan untuk menunjukkan keteladanan Islam yang baik dari berbagai segi, bila tidak kegiatan dakwah hanya akan menjadi bomerang bagi umat Islam sehingga dilecahkan oleh orang (mad’u).

5. Kasih Sayang
Seorang da’i harus memiliki sifat kasih dan sayang serta tidak menunjukkan watak keras dan kasar. Dalam benaknya harus ada anggapan bahwa tidak seluruh mad’u yang ada di hadapannya akan menyambut seruaan dakwahnya. Hal ini agar tidak menyesal manakala gagal. Apabila semuanya menyambut seruan dakwahnya, itu berarti taufiq dari Allah. Bagi Allahlah setiap perkara sebelum dan sesudahnya.Bagi para penyeru kebaikan yang harus ia miliki adalah agar senantiasa lemah lembut, tidak terburu-buru dan mencari kondisi yang cocok bagi si penerima nasehat.
Allah swt berfirman berkenaan dengan keutamaan Nabi Muhammad saw dalam hal sifat beliau yang sangat menentukan keberhasilan dakwah yaitu:
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras lagi kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs Ali-Imran: 159)
Bahasa dakwah yang diperintahkan Al-Quran jauh dari kekerasan, dengan lembut, indah, santun, juga membekas pada jiwa.
6. Sabar
Seorang da’i harus memperkokoh jiwanya di dalam mengemban dan menghadapi apa saja yang akan menimpanya di jalan Allah dengan bersabar. Ia berdakwah untuk membasmi segala bentuk prilaku, adat, tradisi, dan ‘uruf jahiliyah yang telah mendarah daging dalam kehidupan manusia, bahkan telah menjadi bagian dalam kehidupan mereka dan seolah kedudukannya seperti apa yang diturunkan oleh Allah. Ini akan menyebabkan pertentangan yang hebat. Kalau saja seorang da’i tidak bersabar dan siap memikul beban, tentu akan cepat mundur dan putus asa.


REFERENSI
 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Terj M. Abdul Ghaffar E.M, Jakarta: Pustaka Azzam, Cet I, 2001.
 Artikel Kumpulan Kisah Para Nabi
 Muhammad Ahmad Al-`adawi, Da`wah Ar-Rasul Ilallah Ta`ala, Mesir: 1935 M.
 M. Natsir, Fiqhud Da’wah, Solo: CV Ramadhani, Cet VIII, 1989.
 Dr. Sayyid Muhammad Nuh, Dakwah Fardiyah (Pendekatan Personal Dalam Dakwah), Solo: Era Enter Media, Cet II, 2000.
 Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, (Tahqiq Muhammad bin Fahd Al-Hushain), Al-Ijabat Al-Muhimmah Fil Masyakil Al-Mulimmah, Riyadh, Cet II.
 H. Hasanuddin Abu Bakar, Meningkatkan Mutu Dakwah, Jakarta: Media Dakwah, Cet I, 1999.
 Achyar Eldin, SE, MM, Dakwah Stratejik (2 Stratejik Dakwah Harakiyah), Jakarta: Pustaka Tarbiatuna, Cet I, 2003.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar