Minggu, 15 Februari 2009

BILA AJAL TELAH TIBA.... ”


MUQODDIMAH
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barang siapa yang Allah tunjukana akan kebenaran (hidayah), maka tidak ada yang dapat menyesatkanya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah
PEMBAHASAN
A. DEFINISI AJAL/MAUT
Hidup dan mati adalah istilah yang saling berlawanan seperti terang dan gelap, dingin dan panas. Didalam kamus bahasa arab mendefinisikan salah satu dari keduanya adalah lawan dari yang lain. Di dalam kamus bahasa arab arti maut/ajal adalah diam, padam, dan tenang. Sedangkan menurut istilah maut adalah sesuatu yang tidak memiliki roh. Maksudnya adalah terputusnya hubungan dari terpisahnya roh dengan badan/jasad dan bisa juga diartikan dengan bergantinya keadaan atau berpindahnya dari satu tempat ke tempat yang lain
a. Sakartul Maut
Setiap manusia meregang nyawa mengalami sakaratul maut. sebagaimana di jelaskan dalam Q.s. Al-Qahf: 19

“ dan datanglah sakaratul maut dengan sebanar-banarnya, dan itulah yang kamu lari darinya”
Rosulullah Saw, pernah mengalami sakaratul maut, ketika itu beliau sedang sakit menjelang wafatnya, Rasul meraih cangkir kecil berisi air, lalu beliau memasukkan tangannya kedalamnya untuk membasuh wajahnya. dalam hal ini Umar Sulaiman Al-Asyqari menukil dari kitab“Riqaq”Subab sakaratul Maut. Lalu Rosulullah Saw berkata; ”Tiada tuhan selain Allah, sesungguhnya pada maut itu pasti ada sakaratul maut ”
b. Ajal Adalah Rahasia Allah Swt
Kalau kita berbicara tentang ajal, pastilah yang namanya manusia itu akan mendapatkannya, akan mengalaminya. Karena setiap manusia/ setiap yang bernyawa itu akan mati semua kecuali Allah Swt. Allah Swt berfirman;

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Q.s. Al-`arof: 185)
Pada hakekatnya manusia itu tidak memiliki pengetahuan kapan ajal akan datang atau menjemputnya. Karena pengetahuan tentang hal itu adalah hanya milik Allah semata. Allah swt berfirman; (Q.s. Al-An`am: 59) “dan pada sisi-sisinya kunci kegaiban, tak ada yang mengetahui kecuali dia”
Dan Allah Swt juga berfirman di dalam (Q.s. Luqman: 34)

“dan sesungguhnya Allah memiliki ilmu tentang hari kiamat, dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada didalam rahim. Tidaklah seorang pun tahu apa yang akan diperbuatnya besok, dan tak seorang pun tahu di bumi mana ia akan meninggal, sesungguhnya Allah maha mengetahui dan lagi menguawasi”
c. Ajal Pasti Itu Datang
Pada hakekatnya mati adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang abadi, dan mati itu adalah sebuah kebenaran yang pasti. Allah Swt berfirman;
اَلْمَوْتُ حَقٌّ وَهُوَ بِيَدِ اللهِ سُبْحَانَه
“ mati itu adalah sebuah kebenaran (kepastian adanya) dan dia itu ditangan Allah Swt”
Tentang kematian itu sendiri, tak seorangpun yang dapt berpura-pura, tidak tahu dan tidak ada sedikit pun tentang hal tersebut. Namun kebanyakan manusia itu sombong dan tidak mengimaninya serta tidak bersedia melaksanakan berbagai kewajibannya kecuali hamba-hamba Allah yang mukhlis dan beriman kepada-Nya. kematian itu sudah diatur dan di tentukan oleh Allah, tak mungkin di majukan atau di mundurkan walaupun sedikit. Allah Swt berfirmamn didalam (Q.s. yunus: 49)

“apabila Telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”
d. Kedatangan Malaikat Maut
Jika ajal telah tiba dan manusia itu siap memasuki alam ghoib, Allah mengutus malaikat maut untuk mencabut roh yang mengatur dan mengerakkan badan. Allah Swt berfirman;
yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami, dan malaikat- malaikat kami itu tidak melalaikan kewajibannya” (Q.s. Al-`Anam: 61)
Kehadiran malaikat maut ketika mendatangi orang yang mukmin, sholih yang beriman kepada Allah Swt dalam rupa/bentuk yang bagus dan baik. Sedangkam malaikat maut yang menjemput orang yang kafir/yang berpaling dari agama Allah yaitu dengban rupa/ bentuk yang menakutkan. Jadi Allah Swt itu memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman, bahwasannya ia mendapatkan ampunan dan ridho dari Allah Swt. Dan begitu juga malaikat yang datang menjemput orang-orang yang berpaling dari Allah Swt itu membawa kabar yang buruk, bahwasannya dia itu mendapat kebencian dari Allah Swt.

e. Ajal Adalah Sebuah Nasihat
Pada dasarnya Allah swt telah menjelaskan nas-nas tentang ajal/maut di dalam Al-Qur`an, agar kita senantiasa mengigatkan akan kita tidak terjerumus mati dalam su`ul khotimah. Bagi orang yang berakal, adalah orang yang dapat mengambil pelajaran, sebab maut adalah pemberi nasehat yang terbaik. Seperti ahli zuhud ditanya tentang nasehat. Maka ahli zuhud itu menjawab, nasehat yang paling besar adalah merenungkan orang-orang mati.
Allah Swt berfirman di dalam Q.s. Al-Baqarah : 28 artinya “ mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkannya kembali dan kemudian kamu dikembalikan”
Memikirkan ayat ini berarti memikirkan salah satu ciptaan dan keajaiban yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Allah Swt juga memberikan nasehat kepada Rosulullah Saw yaitu “ sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka juga akan mati” ini adalah salah satu nasehat yang diberikan Allah Swt kepada Rosul-Nya.
Diantara nasehat menurut para ulama adalah:
1. Sesungguhnya maut/ajal adalah janji yang paling jujur.
2. Hakim yang paling adil.
3. Menghancurkan kelezatan dan kenikmatan hidup didunia
4. Memutuskan angan-angan dan harapan
Ini adalah salah satu nasehat para ulam yang kita sebagai orang mu`min untuk bisa merenungkannya, karena maut/ajal itu datang tak disangka-sangka. Dan kita tidak akan tahu kalau kita akan mati dinegeri mana?? seperti yang di jelaskan Allah Swt didalam Q.s. Luqman: 34
   •           •    
“dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”
Menurut abu darda; ada dua hal yang membuat beliau tertawa dan membuatku menangis, yang pertama adalah yang membuatku tertawa yaitu orang yang mengharap dunia padahal maut mengintainya, yang kedua orang yang melalaikan dan tak dapat dilalaikan (maut) dan orang yang tertawa lepas padahal mereka tak tahu padahal Allah ridho atau tidak. Kemudian tiga hal yang membuatku menabgis, yaitu yang pertama berpisah dengan orang-orang yang tercinta, yang kedua Muhammad Saw dan Golongannya, kesulitan-kesulitan saat sakaratul maut, dan yang ketiga berdiri di hadapan Allah pada hari ketika yang tersembunyi menjadi jelas dan tak tahu menuju surga atau neraka.
f. Pengaruh Mengingat Mati
Mengingat maut sungguh berpengaruh besar dalam memperbaiki jiwa, sebab jiwa lebih mengutamakan dunia dan kelezatannyaserta berhasrat untuk kekala selamanya di dunia. Terkadang jiwa cenderung kepada dosa dan maksiat, serta malas beramal. Jika mmaut selalu dalam pikiran seorang hamba, ia akan menganggapkecil dunia dan membuatnya selalu berupaya memperbaiki diri. Rosulullah Saw bersabda: perbanyaklah kalian untuk mengingat penghancuran kelezatan, yakni maut. Maut itu jika diingat dalam kesempitan hidup, ia akan melapangkannya, dan jika tidak diingat dalamkeluasan hidup, ia akan menyempitkannya”.
Ibnu Mubarak menyebutkan bahwa seorang saleh berkata: “ lupa mengingat maut sesaat sungguh membuat hatiku rusak”
Ini adalah salah satu hal yang diperintahkan oleh Rosulullah Saw. untuk mengingat maut, karena dengan demikian kita akan bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Wallahu `alam bishowab

 DAFTAR REFERENSI
• Al-Asyqar, umar Sulaiman, DR, Kiamat Kecil, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2003, cet. IV
• Al Hakami, Ahmad, `Alam Assunnah Al Mansyurah li `itiqad ath Thaaifah An Najiyah Al Mansyurah, Jakarta: Gema Insani Press, 1994, Cet. I
• Al-Qarni, A`Idh bin Abdullah, Dr, Sakaratul Maut Gebang Akherat, Jakarta: Darul Haq, 2003
• Al-Qur`an Al-Karim, Departemen Agama RI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar