OLEH: APRIYANTO
Setelah semua upaya dilakukan. Setelah semua pengorbanan diberikan. Setelah semua doa dipanjatkan. Selebihnya adalah mengharapkan keajaiban. Ya keajaiban dalam perspektif keimanan bukanlah negatif. Bahkan kerap kali keimanan itu menciptakan hal-hal yang ajaib. Sejarah orang-orang beriman banyak dipenuhi dengan kejadian-kejadian ajaib dan di luar prediksi nalar manusia. Allah memberikan karunia keajaiban itu kepada mereka sebagai bukti dukungan-Nya kepada perjuangan mereka menegakkan kebenaran dan mempertahankannya. Maka dalam Islam kita mengenal mukjizat, karomah, dan lain-lain.
Setelah melakukan perdebatan raja Fir’aun yang menegangkan urat syaraf, lalu dilanjutkan dengan adu kehebatan antara nabi Allah Musa as. melawan para tukang sihirnya dalam rangka membela kebenaran dan menyelamatkan Bani Israel dari perbudakan raja Fir’aun. Keajaiban pun terjadi. Seorang nabi Musa berhasil mengalahkan kehebatan para tukang sihir itu; ular-ular tukang sihir mereka dilumat habis oleh ular Musa as dan mereka pun menyatakan keimanannya kepada Tuhannya Musa dan Harun. Peristiwa tidak berhenti di situ, raja Fir’aun yang dipermalukan di depan rakyatnya pun murka dan hendak membinasakan mereka semua; Musa dan Bani Israel. Lalu tejadilah peristiwa pengejaran terhadap Musa dan kaumnya hingga pelarian mereka terhadang oleh bentangan laut Merah di hadapan mereka. Logika manusia mengatakan, mereka akan segera tertangkap lalu menjadi bulan-bulanan amukan Fir’aun dan tentaranya.
Untuk kesekian kalinya Allah menurunkan keajaiban-Nya kepada mereka. Laut yang menghadang itu kemudian terbelah oleh hentakan tongkat Musa as. dan mereka pun menyebaringinya laksana menyeberangi daratan. Dan Musa beserta kaumnya selamat dari pengejaran Fir’aun. Sebaliknya, Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam ketika mereka mengikuti jejak Musa menyeberangi jalan laut yang telah diretas Musa atas izin Allah itu. Allah mengabadikan kisah ajaib ini dalam firman-Nya di As-Syu’ara’ ayat 61 -66
“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain]. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.”
Keajaiban bagi manusia tentu bukan keajaban bagi Allah swt., yang memiliki kerajaan langit dan bumi, yang semua makhluk tunduk kepada-Nya dan menjadi tentara-Nya.
“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Yang dimaksud dengan tentara langit dan bumi ialah penolong yang dijadikan Allah swt. untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin taufan dan sebagainya. Seperti pada perang Badar, di mana Allah menurunkan para malaikat untuk membantu perjuangan kaum muslimin. Allah mengisahkan:
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.” (Al-Anfal: 9)
Murdifin artinya malaikat yang diperbantukan Allah secara berkelompok dan bergelombang, satu kelompok datang lalu disusul oleh kelompok lain. Itu terasa lebih menakutkan musuh.
Perang Badar adalah peristiwa besar yang penuh dengan keajaiban. Jumlah pasukan yang tidak berimbang antara kaum muslimin dan kafir Quraisy, senjata yang tidak sebanding, perbekalan yang jauh lebih sedikit ketimbang lawan. Logika kita memahami bahwa 1 orang melawan 3 hanyalah tindakan bunuh diri. 314 pasukan dan 2 kuda perang Islam, melawan 950 pasukan dengan 200 kuda kafir Quraisy.
Rasulullah saw. menghabiskan malam itu dalam zikir kepada Allah swt., tasbih, dan doa. Agar Allah swt. berkenan menurunkan pertolongan-Nya kepada kelompok kecil ini. Sekelompok yang membela agamanya dan kehormatannya. Rasulullah saw. terus menerus berdoa dan bermunajat kepada Tuhannya sampai jubahnya terjuntai jatuh dari pundaknya. Terharu melihat kondisi beliau Abu Bakar ra. mengangkat jubah itu lalu meletakkannya kembali di pundak beliau sembil berkata:
“Tenang ya Rasulullah. Cukuplah kiranya engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Allah telah menjanjikanmu salah satu dari dua kelompok itu.”
Lalu perang tanding pun dimulai. Rasulullah tak henti-hentinya bermunajat kepada Allah:
اَللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ فَلَنْ تُعْبَدَ فِي الأَرْضِ بَعْدَ الْيَوْمِ
“Ya Allah, jika pasukan ini kalah. Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini setelah ini.”
Selain munajat, doa, harap, segenap kekhawatiran. Rasulullah juga memotivasi dan memberikan instruksi dan komando kepada para sahabat. Bahkan menjanjikan mereka dengan janji-janji surga.
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Tidaklah hari ini salah seorang di antara kalian bertempur lalu dia terubunuh karena bersabar dan mengaharapkan pahala Allah, ia maju dan tidak mundur, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
Rasulullah meneruskan motivasinya:
“Bangkitlah kalian untuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”
Demi mendengar ucapan itu, Umair bin Al-Humam berkata, “Bakh. Bakh.” Rasulullah bersabda, “Apa yang membuatmu mengucapkan bakh bakh?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah ya Rasulullah, selain harapan agar aku termasuk penghuni surga.” Rasulullah bersabda, “Kamu termasuk penghuninya.” Umair mengambil kurma di tangkainya lalu melemparkannya seraya berkata, “Jika aku hidup sampai menghabiskan kurma ini, tentu itu merupakan kehidupan yang panjang.” Lalu ia bertempur melawan mereka hingga terbunuh.
Allah swt. memberikan kemenangannya kepada pasukan kecil ini. Yang terbunuh dari pihak kafir 70 orang dan kaum Muslimin 14 orang.
Begitulah dukungan dan pertoloangan Allah selalu datang kepada orang-orang yang beriman. Di sepanjang sejarah perjuangan wali-wali Allah itu. Tidak hanya perjuangan di medan perang. Bahkan semua medan perjuangan di jalan Allah yang tujuannya menegakkan kebenaran dan kalimat Allah di muka bumi. Perjuangan dakwah, pendidikan, bahkan politik. Ketika cita-cita perjuangannya adalah mendamba ridha Allah.
Seorang ibu tinggal di sebuah komplek di Bekasi bercerita, bahwa selama ini diri dan keluarganya adalah fungsionaris dan pendukung partai tertentu. Semua orang tahu bahwa dia dan keluarganya pendukung partai itu. Akan tetapi pada pemilihan umum 2004 lalu dia tidak memilih partai yang selama ini dipilihnya. Ibu itu bercerita, “Saya memasuki bilik suara, terdapat tiga lembar kertas suara yang akan saya coblos. Aneh sekali, pada lembaran lembaran itu tidak jelas, kecuali partai (tertentu) yang berasaskan Islam, ya saya coblos aja partai itu. Gak apa lah, masih ada dua lembar kertas suara lagi, keduanya akan saya berikan untuk partai saya. Lembar kedua saya buka, ternyata tidak berbeda dengan lembar pertama, semua gambar tidak jelas kecuali gambar partai nomor di atas, saya cobloslah gambar itu. Ya, saya masih punya harapan untuk lembar ketiga, suara saya akan saya berikan untuk memilih calon wakil rakyat di tingkat kabupaten dari partai saya. Ternyata saya mendapatinya seperti dua lembar kertas sebelumnya, akhirnya suara saya berikan nomor tersebut. Jangan bilang siapa siapa ya. Inikah yang namannya hidayah itu…”
Seorang ibu-ibu juga, tinggal di Tangerang. Sewaktu memasuki bilik suara ia blank. Tidak ada bayangan akan memilih apa. Sampai ketika hendak mencoblos, juga tidak ada kecenderungan untuk memilih apa. Tiba-tiba bayangan ustadz di pengajiannya muncul. Sepertinya ustadz orang partai Islam (tertentu), maka serta merta ia pun memilih partai itu. Padahal selama ini sang ustadz tidak pernah menyarankan apalagi mendoktrin untuk memilih partai tertentu.
Di sebuah daerah di Papua. Mayoritas penduduknya Kristen. Jelas mereka akan memberikan aspirasi politiknya ke partai yang bukan partai Islam. Pada pemilihan umum tahun 2004 itu, sebagian besar warga diangkut dengan beberapa truk untuk sampai ke TPS. Sebelum berangkat mereka semua didoktrin untuk memlilih partai se idioleogi mereka, berulang kali tokoh setempat mengingatkan partai yang akan mereka pilih. Dan secara mengejutkan, usai penghitungan suara salah satu partai Islam meraup suara yang cukup signifikan dan berhasil menempatkan seorang wakilnya ke kursi dewan. Usut punya usut, ternyata sebagian besar mereka salah pilih, partai se-idiologi mereka yang akan mereka pilih, eh partai Islam yang mereka coblos.
Keikhlasan, totalitas perjuangan, keteladanan pemimpin dan ketaatan tentara, kerendahan diri di hadapan Allah, kekuatan ruhiyah, totalitas dalam tawakal adalah deretan kata kunci untuk memancing pertolongan Allah swt., agar berkenan menurunkan tentara-Nya memenangkan kebenaran. Wallahu A’lam.
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN DAKWAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN DAKWAH. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 Februari 2009
SEJARAH DAKWAH NABI NUH
OLEH:APRIYANTO
Bertahun lamanya kaum Nabi Nuh a.s. menyembah berhala. Mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr –nama-nama berhala ini diwarisi masyarakat Arab di masa jahiliyah. Mereka berbuat yang demikian itu dikarenakan kejahilan dan menuruti hawa nafsu.
Masyarakat yang Dihadapi Nabi Nuh
Bertahun lamanya kaum Nabi Nuh a.s. menyembah berhala. Mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr –nama-nama berhala ini diwarisi masyarakat Arab di masa jahiliyah. Mereka berbuat yang demikian itu dikarenakan kejahilan dan menuruti hawa nafsu.
Asal muasal nama-nama berhala itu diambil dari nama-nama ulama mereka yang pernah hidup bersama mereka sebelumnya. Dengan dalih untuk mengenang jasa-jasa mereka dan untuk mengingatkan semangat peribadatan umat ketika itu, maka dibuatlah patung, gambar, simbol-simbol visualisasi fisik mereka. Namun lambat laun dengan bergantinya generasi, patung-patung itu justru disembah dan dijadikan tuhan.
Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (Nuh: 23).
Di kondisi masyarakat seperti itulah Nabi Nuh a.s. diutus. Nuh adalah orang yang sangat fasih dalam bertutur, cerdas akalnya, pemikirannya jauh ke depan, santun perilakunya, sangat sabar tatkala harus berdebat, memiliki kemampuan berargumentasi yang kuat, dan punya kekuatan meyakinkan lawan bicara. Dengan bekal itu Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk kembali kepada Allah swt. Sayang, kaumnya menolak seruannya. Namun Nuh a.s. tetap memberi peringatan tentang dahsyatnya siksa pembalasan di hari kiamat. Dan kaumnya tetap membisu dan tuli. Nuh a.s. terus memotivasi mereka dengan imbalan pahala yang sangat besar jika mau beriman, namun mereka semakin menutup telinga dan mata.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).” (Al A’raf: 59).
Kreatif dan Sabar dalam Berdakwah
Nuh a.s. tetap mendakwahi dan mendebat kaumnya dengan ulet dan sabar. Nuh mencurahkan kepedulian kepada mereka dengan tutur kata yang lembut. Nuh tidak putus asa mengajak mereka untuk beriman. Bahkan, Nuh menggunakan beragam metode dakwah. Nuh mendakwahi mereka siang dan malam. Sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Jika melihat peluang dakwah di malam hari, beliau lakukan dakwah di malam hari. Bila ada peluang dakwah secara terang-terangan, beliau menyampaikan dakwah secara terang-terangan.
Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” (Nuh: 5-9).
Nuh menggiring nalar pemikiran mereka untuk mencerna rahasia alam raya, memikirkan keindahan semesta alam. Nuh menerangkan fenomena malam yang berangsur gulita. Langit yang menghampar penuh bintang. Bulan yang bersinar. Matahari yang memberikan cahaya. Bumi yang mengalir disela-selanya sungai-sungai dan menumbuhkan beragam tanaman. Semua itu ia terangkan dengan sangat fasih. Ia berbicara dengan dalil yang kuat. Ia menerangkan hakekat Tuhan Yang Satu. Tuhan Yang Kekuasaan-Nya tidak terbatas dan sangat mengagumkan. (Nuh: 14-20).
Demikian Nabi Nuh mendekati dan meyakinkan kaumnya. Dari usaha yang tidak kenal lelah itu, berimanlah sedikit orang dari kaumnya. Mereka menyambut dakwah Nuh a.s. Mereka membenarkan risalahnya. Mereka terdiri dari kaum yang lemah dan tak berpunya.
Iri dan Sombong Penyebab Penolakan Dakwah
Adapun orang-orang yang telah Allah swt. tutup hatinya, mereka tidak akan beriman. Karena potensi pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran mereka tidak difungsikan untuk meraih hidayah, mereka tidak mendapatkan cahaya tauhid. Mereka itu adalah para pemuka kaum, para elit yang memiliki kekuasaan dan jabatan. Tidak hanya menolak, bahkan mereka mengejek dan merendahkan martabat Nabi Nuh.
Para elit itu berkomentar, ”Kamu kan manusia biasa seperti kami, kamu salah seorang di antara kami. Kalau Allah swt. menginginkan rasul, pasti Dia akan mengutus malaikat. Dan karena itu kami pasti akan serta merta mendengarkan perkataannya. Kami akan segera memenuhi seruannya.”
“Kemudian siapa mereka para rakyat jelata itu yang mengikuti kamu? Mereka pekerja kasar dan tukang gembala gembel. Mereka yang telah mengikuti kamu adalah orang-orang dungu yang tidak menggunakan akalnya. Seandainya apa yang kamu bawa itu baik, pasti kami tidak akan didahului oleh mereka-mereka itu. Seandainya apa yang kamu katakan itu benar, pasti kami yang pintar dan intelektual ini akan lebih dahulu mengimani kamu.”
Mereka tak henti mendebat Nabi Nuh. Mereka terus memojokkan Nabi Nuh dan pengikutnya. Mereka mengejek. ”Kami tidak melihat kamu dan pengikutmu lebih utama dibandingkan kami. Dalam hal kepintaran, kefasihan, keluasaan wawasan, dalam hal menentukan yang membawa maslahat, dan pengetahuan tentang pridiksi masa depan. Kami mengira kalian adalah para pembohong!” (Yunus: 27).
Nabi Nuh menjawab dengan santun dan cerdas –meskipun omongan mereka sudah kelewat batas penghinaan. ”Bagaimana pendapat kalian, seandainya saya dalam kebenaran yang datangnya dari Tuhan-ku. Berlandasan hujjah nyata yang membenarkan dakwahku. Saya mendapatkan rahmat dan keutamaan dari Tuhan-ku. Maka, apakah saya bisa memaksa kalian, atau saya berkuasa membawa kalian kepada iman?” (Yunus: 28).
Mereka menjawab, ”Wahai Nuh, seandainya kamu menginginkan kami mendapat hidayah dan taufiq, kamu menginginkan dukungan dan kemuliaan dari kami, mengapa kamu jadikan pengikutmu yang lemah lagi tak berpunya itu sebagai pendukung? Kami tidak mungkin bersanding dengan mereka. Kami tidak mungkin berjalan dengan mereka. Keyakinan kami tidak mungkin sama dengan keyakinan mereka. Bagaimana mungkin kami mengikuti agama yang tidak membedakan antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dengan rakyat?”
Bangga dengan Pendukung Dakwah
Nabi Nuh menjawab, ”Risalah yang aku bawa ini adalah untuk kalian semua tanpa terkecuali. Tidak ada pembedaan antara orang yang pintar atau yang biasa-biasa saja; orang yang terkenal atau yang tidak dikenal; orang berpunya atau miskin papa; pejabat atau rakyat. Maka bersegeralah kalian untuk menjawab seruanku pasti apa yang kalian kehendaki akan tercapai.”
“Dan bagaimana mungkin aku meremehkan kaum yang membelaku, sedangkan kalian menjadi penentang? Seruanku telah sampai di relung kalbu mereka. Mereka beriman, sedangkan kalian menolak, bahkan memusuhiku. Mereka pendukung risalah ini. Mereka menjadi penyeru dakwah ilallah. Bagaimana jika mereka mengadu di depan mahkamah Allah swt. dan menuntut saya? Mereka mengadu kepada Allah swt. bahwa aku telah membalas penerimaan mereka dengan kufur nikmat, membalas kebaikan mereka dengan pengingkaran. Ingatlah, kalian benar-benar kaum yang jahil!”
Dan (dia berkata), “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui”. (Hud: 29).
Debat antara Nabi Nuh dan penentangnya semakin meruncing. Pertentangan di antara mereka menghebat. Inilah yang menjadikan para penentangnya putus asa. Mereka berkata. “Hai Nuh, Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Yunus: 32)
Nabi Nuh tersentak. Ia menjawab, ”Kalian memang benar-benar keterlaluan. Kalian tidak lagi menggunakan akal sehat kalian. Siapa saya ini sehingga saya bisa mendatangkan adzab kepada kalian atau menolak adzab dari kalian? Bukankah saya ini manusia seperti kalian semua yang diberi wahyu bahwa Tuhan kalian satu, maka saya sampaikan apa yang diperintahkan kepadaku. Saya memberi kabar gembira bagi yang memenuhi seruanku. Dan saya juga memberi peringatan kepada kalian dengan siksa yang pedih. Ketahuilah bahwa segala sesuatu tergantung dan dikembalikan kepada Allah swt. Jika Allah swt. berkehendak akan memberi hidayah kepada kalian. Atau jika Allah swt. berkehendak, akan langsung mengadzab kalian. Atau Allah swt. akan menangguhkan dan memberi tenggat waktu hidup untuk kalian, agar kemudian kalian diadzab lebih dahsyat lagi. (Yunus: 33-34).
Ibrah dari Kisah Nabi Nuh
1. Berdakwah adalah wajib bagi para rasul. Sepeninggal mereka kewajiban itu diwajibkan kepada para pengikutnya sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah saw. bersabda, ”Senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang menyeru dan menegakkan kebenaran, sampai datang kepada mereka ketentuan Allah (kemenangan).” (Bukhari, Sahih Bukhari, hal. 286).
2. Di dalam melaksanakan dakwah ilallah dibutuhkan ilmu tentang fiqh dakwah, yaitu pengetahuan tentang tahapan dakwah, sarana dakwah, metode dakwah, dan mengetahui latar belakang serta kondisi objek dakwah. Sebagaimana Rasulullah saw. pernah mencontohkan. Beliau pernah ditanya oleh beberapa sahabat dalam kesempatan berbeda dengan satu pertanyaan. Namun Beliau menjawab dengan beragam. Beliau menjawab amal yang paling dicintai Allah adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, karena sahabat yang bertanya ternyata tidak berbuat baik kepada orang tuanya. Jawaban untuk yang lain, shalat tepat waktu, karena Rasul mengetahui bahwa sahabat yang satu ini kurang memperhatikan masalah shalat berjama’ah tepat waktu. Pada kesempatan yang lain, beliau menjawab jihad fii sabilillah, karena sahabat yang tanya ternyata tidak sungguh-sungguh dalam berjihad.
3. Bangga dengan para pendukung dakwah. Tidak pandang bulu siapa pun mereka dan berapa pun jumlah mereka. Ketika Rasulullah saw. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah. Tapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu. Mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja. Lalu turunlah ayat ini. ”Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (Al-An’am: 52).
Bertahun lamanya kaum Nabi Nuh a.s. menyembah berhala. Mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr –nama-nama berhala ini diwarisi masyarakat Arab di masa jahiliyah. Mereka berbuat yang demikian itu dikarenakan kejahilan dan menuruti hawa nafsu.
Masyarakat yang Dihadapi Nabi Nuh
Bertahun lamanya kaum Nabi Nuh a.s. menyembah berhala. Mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr –nama-nama berhala ini diwarisi masyarakat Arab di masa jahiliyah. Mereka berbuat yang demikian itu dikarenakan kejahilan dan menuruti hawa nafsu.
Asal muasal nama-nama berhala itu diambil dari nama-nama ulama mereka yang pernah hidup bersama mereka sebelumnya. Dengan dalih untuk mengenang jasa-jasa mereka dan untuk mengingatkan semangat peribadatan umat ketika itu, maka dibuatlah patung, gambar, simbol-simbol visualisasi fisik mereka. Namun lambat laun dengan bergantinya generasi, patung-patung itu justru disembah dan dijadikan tuhan.
Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (Nuh: 23).
Di kondisi masyarakat seperti itulah Nabi Nuh a.s. diutus. Nuh adalah orang yang sangat fasih dalam bertutur, cerdas akalnya, pemikirannya jauh ke depan, santun perilakunya, sangat sabar tatkala harus berdebat, memiliki kemampuan berargumentasi yang kuat, dan punya kekuatan meyakinkan lawan bicara. Dengan bekal itu Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk kembali kepada Allah swt. Sayang, kaumnya menolak seruannya. Namun Nuh a.s. tetap memberi peringatan tentang dahsyatnya siksa pembalasan di hari kiamat. Dan kaumnya tetap membisu dan tuli. Nuh a.s. terus memotivasi mereka dengan imbalan pahala yang sangat besar jika mau beriman, namun mereka semakin menutup telinga dan mata.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).” (Al A’raf: 59).
Kreatif dan Sabar dalam Berdakwah
Nuh a.s. tetap mendakwahi dan mendebat kaumnya dengan ulet dan sabar. Nuh mencurahkan kepedulian kepada mereka dengan tutur kata yang lembut. Nuh tidak putus asa mengajak mereka untuk beriman. Bahkan, Nuh menggunakan beragam metode dakwah. Nuh mendakwahi mereka siang dan malam. Sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Jika melihat peluang dakwah di malam hari, beliau lakukan dakwah di malam hari. Bila ada peluang dakwah secara terang-terangan, beliau menyampaikan dakwah secara terang-terangan.
Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” (Nuh: 5-9).
Nuh menggiring nalar pemikiran mereka untuk mencerna rahasia alam raya, memikirkan keindahan semesta alam. Nuh menerangkan fenomena malam yang berangsur gulita. Langit yang menghampar penuh bintang. Bulan yang bersinar. Matahari yang memberikan cahaya. Bumi yang mengalir disela-selanya sungai-sungai dan menumbuhkan beragam tanaman. Semua itu ia terangkan dengan sangat fasih. Ia berbicara dengan dalil yang kuat. Ia menerangkan hakekat Tuhan Yang Satu. Tuhan Yang Kekuasaan-Nya tidak terbatas dan sangat mengagumkan. (Nuh: 14-20).
Demikian Nabi Nuh mendekati dan meyakinkan kaumnya. Dari usaha yang tidak kenal lelah itu, berimanlah sedikit orang dari kaumnya. Mereka menyambut dakwah Nuh a.s. Mereka membenarkan risalahnya. Mereka terdiri dari kaum yang lemah dan tak berpunya.
Iri dan Sombong Penyebab Penolakan Dakwah
Adapun orang-orang yang telah Allah swt. tutup hatinya, mereka tidak akan beriman. Karena potensi pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran mereka tidak difungsikan untuk meraih hidayah, mereka tidak mendapatkan cahaya tauhid. Mereka itu adalah para pemuka kaum, para elit yang memiliki kekuasaan dan jabatan. Tidak hanya menolak, bahkan mereka mengejek dan merendahkan martabat Nabi Nuh.
Para elit itu berkomentar, ”Kamu kan manusia biasa seperti kami, kamu salah seorang di antara kami. Kalau Allah swt. menginginkan rasul, pasti Dia akan mengutus malaikat. Dan karena itu kami pasti akan serta merta mendengarkan perkataannya. Kami akan segera memenuhi seruannya.”
“Kemudian siapa mereka para rakyat jelata itu yang mengikuti kamu? Mereka pekerja kasar dan tukang gembala gembel. Mereka yang telah mengikuti kamu adalah orang-orang dungu yang tidak menggunakan akalnya. Seandainya apa yang kamu bawa itu baik, pasti kami tidak akan didahului oleh mereka-mereka itu. Seandainya apa yang kamu katakan itu benar, pasti kami yang pintar dan intelektual ini akan lebih dahulu mengimani kamu.”
Mereka tak henti mendebat Nabi Nuh. Mereka terus memojokkan Nabi Nuh dan pengikutnya. Mereka mengejek. ”Kami tidak melihat kamu dan pengikutmu lebih utama dibandingkan kami. Dalam hal kepintaran, kefasihan, keluasaan wawasan, dalam hal menentukan yang membawa maslahat, dan pengetahuan tentang pridiksi masa depan. Kami mengira kalian adalah para pembohong!” (Yunus: 27).
Nabi Nuh menjawab dengan santun dan cerdas –meskipun omongan mereka sudah kelewat batas penghinaan. ”Bagaimana pendapat kalian, seandainya saya dalam kebenaran yang datangnya dari Tuhan-ku. Berlandasan hujjah nyata yang membenarkan dakwahku. Saya mendapatkan rahmat dan keutamaan dari Tuhan-ku. Maka, apakah saya bisa memaksa kalian, atau saya berkuasa membawa kalian kepada iman?” (Yunus: 28).
Mereka menjawab, ”Wahai Nuh, seandainya kamu menginginkan kami mendapat hidayah dan taufiq, kamu menginginkan dukungan dan kemuliaan dari kami, mengapa kamu jadikan pengikutmu yang lemah lagi tak berpunya itu sebagai pendukung? Kami tidak mungkin bersanding dengan mereka. Kami tidak mungkin berjalan dengan mereka. Keyakinan kami tidak mungkin sama dengan keyakinan mereka. Bagaimana mungkin kami mengikuti agama yang tidak membedakan antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dengan rakyat?”
Bangga dengan Pendukung Dakwah
Nabi Nuh menjawab, ”Risalah yang aku bawa ini adalah untuk kalian semua tanpa terkecuali. Tidak ada pembedaan antara orang yang pintar atau yang biasa-biasa saja; orang yang terkenal atau yang tidak dikenal; orang berpunya atau miskin papa; pejabat atau rakyat. Maka bersegeralah kalian untuk menjawab seruanku pasti apa yang kalian kehendaki akan tercapai.”
“Dan bagaimana mungkin aku meremehkan kaum yang membelaku, sedangkan kalian menjadi penentang? Seruanku telah sampai di relung kalbu mereka. Mereka beriman, sedangkan kalian menolak, bahkan memusuhiku. Mereka pendukung risalah ini. Mereka menjadi penyeru dakwah ilallah. Bagaimana jika mereka mengadu di depan mahkamah Allah swt. dan menuntut saya? Mereka mengadu kepada Allah swt. bahwa aku telah membalas penerimaan mereka dengan kufur nikmat, membalas kebaikan mereka dengan pengingkaran. Ingatlah, kalian benar-benar kaum yang jahil!”
Dan (dia berkata), “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui”. (Hud: 29).
Debat antara Nabi Nuh dan penentangnya semakin meruncing. Pertentangan di antara mereka menghebat. Inilah yang menjadikan para penentangnya putus asa. Mereka berkata. “Hai Nuh, Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Yunus: 32)
Nabi Nuh tersentak. Ia menjawab, ”Kalian memang benar-benar keterlaluan. Kalian tidak lagi menggunakan akal sehat kalian. Siapa saya ini sehingga saya bisa mendatangkan adzab kepada kalian atau menolak adzab dari kalian? Bukankah saya ini manusia seperti kalian semua yang diberi wahyu bahwa Tuhan kalian satu, maka saya sampaikan apa yang diperintahkan kepadaku. Saya memberi kabar gembira bagi yang memenuhi seruanku. Dan saya juga memberi peringatan kepada kalian dengan siksa yang pedih. Ketahuilah bahwa segala sesuatu tergantung dan dikembalikan kepada Allah swt. Jika Allah swt. berkehendak akan memberi hidayah kepada kalian. Atau jika Allah swt. berkehendak, akan langsung mengadzab kalian. Atau Allah swt. akan menangguhkan dan memberi tenggat waktu hidup untuk kalian, agar kemudian kalian diadzab lebih dahsyat lagi. (Yunus: 33-34).
Ibrah dari Kisah Nabi Nuh
1. Berdakwah adalah wajib bagi para rasul. Sepeninggal mereka kewajiban itu diwajibkan kepada para pengikutnya sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah saw. bersabda, ”Senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang menyeru dan menegakkan kebenaran, sampai datang kepada mereka ketentuan Allah (kemenangan).” (Bukhari, Sahih Bukhari, hal. 286).
2. Di dalam melaksanakan dakwah ilallah dibutuhkan ilmu tentang fiqh dakwah, yaitu pengetahuan tentang tahapan dakwah, sarana dakwah, metode dakwah, dan mengetahui latar belakang serta kondisi objek dakwah. Sebagaimana Rasulullah saw. pernah mencontohkan. Beliau pernah ditanya oleh beberapa sahabat dalam kesempatan berbeda dengan satu pertanyaan. Namun Beliau menjawab dengan beragam. Beliau menjawab amal yang paling dicintai Allah adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, karena sahabat yang bertanya ternyata tidak berbuat baik kepada orang tuanya. Jawaban untuk yang lain, shalat tepat waktu, karena Rasul mengetahui bahwa sahabat yang satu ini kurang memperhatikan masalah shalat berjama’ah tepat waktu. Pada kesempatan yang lain, beliau menjawab jihad fii sabilillah, karena sahabat yang tanya ternyata tidak sungguh-sungguh dalam berjihad.
3. Bangga dengan para pendukung dakwah. Tidak pandang bulu siapa pun mereka dan berapa pun jumlah mereka. Ketika Rasulullah saw. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah. Tapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu. Mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja. Lalu turunlah ayat ini. ”Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (Al-An’am: 52).
BERDAKWAHLAH NISCAYA KALIAN MULIA
BIQOLAM:APRIYANTO
Dakwah adalah aktivitas menyeru manusia kepada Allah swt dengan hikmah dan pelajaran yang baik dengan harapan agar objek dakwah (mad’u) yang kita dakwahi beriman kepada Allah swt dan mengingkari thaghut (semua yang diabdi selain Allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
Jika kita melihat ayat-ayat Al-Quran maupun hadits-hadits Rasulullah saw, kita akan banyak menemukan fadhail (keutamaan) dakwah yang luar biasa. Dengan mengetahui, memahami, dan menghayati keutamaan dakwah ini seorang muslim akan termotivasi secara kuat untuk melakukan dakwah dan bergabung bersama kafilah dakwah di manapun ia berada.
Mengetahui keutamaan dakwah termasuk faktor terpenting yang mempengaruhi konsistensi seorang muslim dalam berdakwah dan menjaga semangat dakwah, karena keyakinan terhadap keutamaan dakwah dapat menjadikannya merasa ringan menghadapi beban dan rintangan dakwah betapapun beratnya.
Beberapa keutamaan dakwah yang dapat kita sebutkan dalam pokok bahasan ini adalah:
1. Dakwah adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul alaihimussalam)
Para rasul alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah swt. untuk melakukan tugas utama mereka yakni berdakwah kepada Allah. Keutamaan dakwah terletak pada disandarkannya kerja dakwah ini kepada manusia yang paling utama dan mulia yakni Rasulullah saw. dan saudara-saudara beliau para nabi & rasul alaihimussalam.
“Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf (12): 108).
Ayat di atas menjelaskan jalan Rasulullah saw. dan para pengikut beliau adalah jalan dakwah. Maka barangsiapa mengaku menjadi pengikut beliau saw. ia harus terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing.
Tentang Nabi Nuh as. Allah mengisahkan kesibukan beliau yang tak kenal henti dalam menjalankan tugas berdakwah siang dan malam:
“Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah mendakwahi (menyeru) kaumku malam dan siang.” (Nuh (71): 5).
Tentang Nabi Ibrahim as. Allah mengisahkan dakwah yang beliau lakukan kepada ayah dan ummatnya:
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”. Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, Atau dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”. Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah. Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?. Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam. (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (Asy-Syuara (26): 69-82).
Tentang Nabi Musa as, Allah swt mengisahkan dakwah beliau dalam banyak ayat-ayat Al-Quran, diantaranya:
“Dan sesunguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam”. Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya.” (Az-Zukhruf (43): 46-47).
Tentang Nabi Isa as, Allah swt mengisahkan dakwah beliau dalam firman-Nya:
“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah[1] dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf (43): 63-64).
Pintu kenabian dan kerasulan memang sudah tertutup selama-lamanya, namun kita masih dapat mewarisi pekerjaan dan tugas mulia mereka, sehingga kita berharap semoga Allah swt. berkenan memuliakan kita.
2. Dakwah adalah Ahsanul A’mal (Amal yang Terbaik)
Dakwah adalah amal yang terbaik, karena da’wah memelihara amal Islami di dalam pribadi dan masyarakat. Membangun potensi dan memelihara amal sholeh adalah amal da’wah, sehingga da’wah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai peranan penting di dalam menegakkan Islam. Tanpa da’wah ini maka amal sholeh tidak akan berlangsung.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat (41): 33).
Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: Allah swt menyeru manusia: “Wahai manusia, siapakah yang lebih baik perkataannya selain orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian istiqamah dengan keimanan itu, berhenti pada perintah dan larangan-Nya, dan berdakwah (mengajak) hamba-hamba Allah untuk mengatakan apa yang ia katakan dan mengerjakan apa yang ia lakukan.” (Tafsir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Al-Quran, 21/468).
Bagaimana tidak akan menjadi ucapan dan pekerjaan yang terbaik? Sementara dakwah adalah pekerjaan makhluk terbaik yakni para nabi dan rasul alaihimussalam.
Sayyid Quthb rahimahullah berkata dalam Fi Zhilal Al-Quran:
“Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di bumi ini, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya. Akan tetapi ia harus disertai dengan amal shalih yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah sehingga tidak ada penonjolan diri di dalamnya. Dengan demikian jadilah dakwah ini murni untuk Allah, tidak ada kepentingan bagi seorang da’i kecuali menyampaikan. Setelah itu tidak pantas kalimat seorang da’i kita sikapi dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i datang dan maju membawa kebaikan, sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat tinggi…” (Fi Zhilal Al-Quran 6/295).
Dakwah memiliki keutamaan yang besar karena para da’i akan memperoleh balasan yang besar dan berlipat ganda (al-hushulu ‘ala al-ajri al-‘azhim).
قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِعَلِيٍّ: ((فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ)) (رواه البخاري ومسلم وأحمد
Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (da’wah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (HR. Bukhari, Muslim & Ahmad).
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa: “Unta merah adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab saat itu.”
Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang da’i menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah swt. lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan mewah miliknya.
Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:
« يَا عَلِيُّ، لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ عَلَى يَدَيْكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » (رواه الحاكم في المستدرك
“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ)) (رواه الترمذي عن أبي أمامة الباهلي.
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).
Berapakah jumlah malaikat, semut dan ikan yang ada di dunia ini? Bayangkan betapa besar kebaikan yang diperoleh oleh seorang da’i dengan doa mereka semua!
Imam Tirmidzi setelah menyebutkan hadits tersebut juga mengutip ucapan Fudhail bin ‘Iyadh yang mengatakan:
عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ
“Seorang yang berilmu, beramal dan mengajarkan (ilmunya) akan dipanggil sebagai orang besar (mulia) di kerajaan langit.”
Keagungan balasan bagi orang yang berdakwah tidak hanya pada besarnya balasan untuknya tetapi juga karena terus menerusnya ganjaran itu mengalir kepadanya meskipun ia telah wafat.
Perhatikan sabda Rasulullah saw. berikut ini:
((مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّـئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ)) (رواه مسلم عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه.
“Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka yang mencontohnya. Dan barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya.”
Dakwah adalah aktivitas menyeru manusia kepada Allah swt dengan hikmah dan pelajaran yang baik dengan harapan agar objek dakwah (mad’u) yang kita dakwahi beriman kepada Allah swt dan mengingkari thaghut (semua yang diabdi selain Allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
Jika kita melihat ayat-ayat Al-Quran maupun hadits-hadits Rasulullah saw, kita akan banyak menemukan fadhail (keutamaan) dakwah yang luar biasa. Dengan mengetahui, memahami, dan menghayati keutamaan dakwah ini seorang muslim akan termotivasi secara kuat untuk melakukan dakwah dan bergabung bersama kafilah dakwah di manapun ia berada.
Mengetahui keutamaan dakwah termasuk faktor terpenting yang mempengaruhi konsistensi seorang muslim dalam berdakwah dan menjaga semangat dakwah, karena keyakinan terhadap keutamaan dakwah dapat menjadikannya merasa ringan menghadapi beban dan rintangan dakwah betapapun beratnya.
Beberapa keutamaan dakwah yang dapat kita sebutkan dalam pokok bahasan ini adalah:
1. Dakwah adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul alaihimussalam)
Para rasul alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah swt. untuk melakukan tugas utama mereka yakni berdakwah kepada Allah. Keutamaan dakwah terletak pada disandarkannya kerja dakwah ini kepada manusia yang paling utama dan mulia yakni Rasulullah saw. dan saudara-saudara beliau para nabi & rasul alaihimussalam.
“Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf (12): 108).
Ayat di atas menjelaskan jalan Rasulullah saw. dan para pengikut beliau adalah jalan dakwah. Maka barangsiapa mengaku menjadi pengikut beliau saw. ia harus terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing.
Tentang Nabi Nuh as. Allah mengisahkan kesibukan beliau yang tak kenal henti dalam menjalankan tugas berdakwah siang dan malam:
“Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah mendakwahi (menyeru) kaumku malam dan siang.” (Nuh (71): 5).
Tentang Nabi Ibrahim as. Allah mengisahkan dakwah yang beliau lakukan kepada ayah dan ummatnya:
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”. Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, Atau dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”. Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah. Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?. Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam. (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (Asy-Syuara (26): 69-82).
Tentang Nabi Musa as, Allah swt mengisahkan dakwah beliau dalam banyak ayat-ayat Al-Quran, diantaranya:
“Dan sesunguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam”. Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya.” (Az-Zukhruf (43): 46-47).
Tentang Nabi Isa as, Allah swt mengisahkan dakwah beliau dalam firman-Nya:
“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah[1] dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf (43): 63-64).
Pintu kenabian dan kerasulan memang sudah tertutup selama-lamanya, namun kita masih dapat mewarisi pekerjaan dan tugas mulia mereka, sehingga kita berharap semoga Allah swt. berkenan memuliakan kita.
2. Dakwah adalah Ahsanul A’mal (Amal yang Terbaik)
Dakwah adalah amal yang terbaik, karena da’wah memelihara amal Islami di dalam pribadi dan masyarakat. Membangun potensi dan memelihara amal sholeh adalah amal da’wah, sehingga da’wah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai peranan penting di dalam menegakkan Islam. Tanpa da’wah ini maka amal sholeh tidak akan berlangsung.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat (41): 33).
Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: Allah swt menyeru manusia: “Wahai manusia, siapakah yang lebih baik perkataannya selain orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian istiqamah dengan keimanan itu, berhenti pada perintah dan larangan-Nya, dan berdakwah (mengajak) hamba-hamba Allah untuk mengatakan apa yang ia katakan dan mengerjakan apa yang ia lakukan.” (Tafsir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Al-Quran, 21/468).
Bagaimana tidak akan menjadi ucapan dan pekerjaan yang terbaik? Sementara dakwah adalah pekerjaan makhluk terbaik yakni para nabi dan rasul alaihimussalam.
Sayyid Quthb rahimahullah berkata dalam Fi Zhilal Al-Quran:
“Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di bumi ini, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya. Akan tetapi ia harus disertai dengan amal shalih yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah sehingga tidak ada penonjolan diri di dalamnya. Dengan demikian jadilah dakwah ini murni untuk Allah, tidak ada kepentingan bagi seorang da’i kecuali menyampaikan. Setelah itu tidak pantas kalimat seorang da’i kita sikapi dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i datang dan maju membawa kebaikan, sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat tinggi…” (Fi Zhilal Al-Quran 6/295).
Dakwah memiliki keutamaan yang besar karena para da’i akan memperoleh balasan yang besar dan berlipat ganda (al-hushulu ‘ala al-ajri al-‘azhim).
قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِعَلِيٍّ: ((فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ)) (رواه البخاري ومسلم وأحمد
Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (da’wah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (HR. Bukhari, Muslim & Ahmad).
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa: “Unta merah adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab saat itu.”
Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang da’i menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah swt. lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan mewah miliknya.
Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:
« يَا عَلِيُّ، لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ عَلَى يَدَيْكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » (رواه الحاكم في المستدرك
“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ)) (رواه الترمذي عن أبي أمامة الباهلي.
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).
Berapakah jumlah malaikat, semut dan ikan yang ada di dunia ini? Bayangkan betapa besar kebaikan yang diperoleh oleh seorang da’i dengan doa mereka semua!
Imam Tirmidzi setelah menyebutkan hadits tersebut juga mengutip ucapan Fudhail bin ‘Iyadh yang mengatakan:
عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ
“Seorang yang berilmu, beramal dan mengajarkan (ilmunya) akan dipanggil sebagai orang besar (mulia) di kerajaan langit.”
Keagungan balasan bagi orang yang berdakwah tidak hanya pada besarnya balasan untuknya tetapi juga karena terus menerusnya ganjaran itu mengalir kepadanya meskipun ia telah wafat.
Perhatikan sabda Rasulullah saw. berikut ini:
((مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّـئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ)) (رواه مسلم عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه.
“Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka yang mencontohnya. Dan barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya.”
Langganan:
Postingan (Atom)
